Bali Saat Pandemi

Bali yang menjadi tolak ukur perkembangan pariwisata nasional mengalami perkembangan kepariwisataan yang pesat dengan ditandai oleh jumlah kunjungan wisata yang selalu tinggi jika dibandingkan dengan daerah lain dan kontribusi Bali dalam menyumbang 50 persen pendapatan dalam sektor pariwisata nasional. Menurut TripAdvisor, Bali menjadi peringkat pertama dalam daftar 10 kota destinasi wisata yang terpopuler di Indonesia pada 2019, sesuai dengan pilihan wisatawan diatas Lombok, Yogyakarta, Jakarta, Bandung dll.

Beberapa macam destinasi yang menjadi pilihan utama dalam berwisata contohnya mulai dari wisata dengan suasana alam dan pemandangan yang memanjakan mata, kawasan wisata religi hingga pusat-pusat hiburan yang menjadi pilihan lainnya. Bukan hanya menjadi tempat untuk berlibur saja, Bali juga menjadi tempat untuk relaksasi bagi orang-orang yang sudah penat dengan aktivitas yang menumpuk. 

Berlibur di Bali menjadi hal yang menarik tergantung dari selera wisatawan masing-masing serta kriteria kunjungan yang wisatawan inginkan. Bali juga sudah memanjakan pengunjungnya dengan menyediakan  penginapan dengan jumlah sebanyak 507 untuk semua kelas menurut data BPS tahun 2019 yang membuat pengunjung  semakin betah untuk menghabiskan waktunya di Bali tanpa kebingungan mencari tempat penginapan. 

Beberapa contoh destinasi wisata yang sering dikunjungi yang ada di Bali seperti Pantai Kuta, Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pulau Menjangan, Nusa Lembongan, Tanah Lot, Monkey Forest Ubud, Gunung Batur, Pantai Pandawa, Taman Jinja, Danau Beratan, Pura Luhur Uluwatu  dan masih banyak lagi. Saat ini juga Bali memiliki beberapa pusat wisata yang sarat edukasi untuk anak-anak seperti kebun binatang, museum tiga dimensi, taman bermain air, dan tempat penangkaran kura-kura.

Saat ini, yang menjadikan pariwisata di Bali berjalan dengan baik adalah akses ke berbagai tempat yang tergolong sudah cukup terpenuhi. Walaupun Bali tidak memiliki jaringan kereta api namun jaringan jalan yang ada di pulau ini tergolong baik dibanding daerah-daerah lain di Indonesia, jaringan jalan tersedia dengan baik khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Dengan posisinya menjadi  pusat  wisata mendorong pemerintah setempat untuk melengkapi fasilitas pendukung  yang ada disana. 

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/ Baparekraf) saat ini berupaya melengkapi fasilitas destinasi wisata di Bali demi menjadikan Bali lebih siap lagi dalam menerima wisatawan yang semakin melonjak di masa yang akan datang. Pengembangan kawasan pariwisata terutama dalam pembangunan aksesibiltas pariwisata sudah diatur dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Bali Tahun 2015-2029 yang diputuskan oleh Gubernur Bali pada pasal 23 yang menyebutkan bhawa pembangunan aksesibilitas pariwisata dalam Pasal 13 huruf c, meliputi: Penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana destinasi pariwisata, kawasan pariwisata, KWDTWK dan DTW yang disesuaikan dengan kondisi wilayah Kabupaten/Kota; Pengembangan sistem informasi aksesibilitas pariwisata;dan Optimalisasi dengan penyediaan standar pelayanan yang dapat diterima oleh wisatawan.

Tetapi dengan munculnya pandemi Covid-19  paada  awal tahun 2020 cukup menghambat  perkembangan pariwisata yang ada di Bali. Menurut data Badan Pusat  Statistik (BPS) Bali tahun 2020 pada rentang Januari hingga Juli 2020 terdapat sekitar 3,24 juta orang wisatawan yang berkunjung ke Bali. Angka ini dapat dikatakan cukup banyak jika dilihat sekilas akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada periode yang sama di tahun 2019  terjadi penurunan sebanyak 64 persen. Penurunan yang cukup drastis tersebut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Bali. 

Berdasarkan arahan Wakil Gubernur Bali Tjokrorda Oka Artha Ardana Sukawati pada Oktober 2020 mengatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan pada perekonomian masyarakat Bali yang dapat dilihat pada triwulan kedua pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi di Bali mengalamai penurunan yang cukup banyak hingga mencapai angka -10,98%. 

Menurut Pemerintah Provinsi Bali, dari sektor pariwisata Bali kehilangan pendapatan sebanyak Rp 9,7 Triliun per bulan akibat pandemi virus corona sehingga pada bulan Maret hingga Juli 2020 kehilangan Rp 48,5 Triliun pendapatan dari sektor pariwisata sendiri. Selain permasalahan dalam jumlah wisatawan dan ekonomi, pandemik juga berdampak kepada banyak pegawai yang bekerja dalam sektor pariwisata yang dirumahkan karena perusahaan tempat mereka bekerja dalam kondisi terseok-sesok dalam menghadapi dampak buruk pandemic. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru Bersama Keluarga

Taman Nasional Komodo Dan Raja Ampat

Kumpul Liburan